Postingan

Aku Bukan Lelaki Sempurna

Pagi itu rasanya enggan sekali untuk bangun dari tempat tidurku. Kepala terasa berat seperti ditindih berkarung-karung pasir. Cakrawala terlihat kelam bergelayut awan yang semakin hitam, sementara sisa rintik hujan dari semalam seperti tak pernah bosan membasahi bumi. Aku tertelungkup dengan guling di atas kepala ku. Sementara itu, istriku sudah berdandan rapi menungguku untuk pergi ke suatu pengadilan. Pikiranku menerawang jauh ke masa lalu, teringat saat awal perjumpaan dengan istriku,   sama-sama menjadi calon mahasiswa di suatu perguruan tinggi di Jawa Barat. Kala itu mukanya tampak polos tanpa make up , dengan pakaian sederhana namun serasi dengan postur tubuhnya, tak salah jika ku sematkan, kamu adalah bunga desa.     Sama-sama berangkat dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Perjumpaanku dengannya seperti sebuah takdir yang tak bisa ku tolak. Dari saling memandang, bertegur sapa, jalan bersama, lalu merajut asmara, semua seolah berjalan begitu sempurna. Hingg...

R i n d u R i s a u

di sebuah petang di sekitaran embong miring sebelah wetan kota kecil L. di kaki mahameru. dengan jingga yang semakin tua. aku masih terbang. ingin sekali aku membacakan sajak yang kubuat siang tadi kepadamu. sajak tentang rimbunan angin. tentang asmaradhana. kupicingkan mata. mencari-cari. sepertinya kau tak ada di sana. tapi, siapa tau kau segera lewat. berkerudung putih berumbai-rumbai sambil mengayun. bersepeda. di tangan kirimu membawa kembang-kembang. semoga kembang itu bertahan pada tangkainya. meski tiada apa (senyum) di antara kita. lalu tangan lembut daun-daun pohon angsana menyapa kita. sambil membawa cendera mata seharga lima rupiah. yang bernama setya. dan seketika pipiku merah muda. Dan pandanganmu terpapar di sepanjang garis sungai yang sedang berwarna keemasan. tak terputus. mengalir begitu saja. dan sebab kita tak perlu kata lagi. maka, tak ada yang bersisa. biarlah rindu menyulut risau. dan aku kembali terjaga. dikelilingi angin. dengan j...

Gemetar!

Bukan karena baru melihat hantu Bukan pula karena hembusan AC yang membeku Aku gemetar Karena lupa sarapan pagi Yang disantap hanya secangkir kopi Aku gemetar Mau makan tapi tanggung Karena adzan dzuhur sudah berkumandang Aku gemetar Sate yang dipesan tak kunjung tiba Entah antrian keberapa, aku tak bertanya Aku gemetar Ya Tuhan... Hilangkan rasa gemetar di badan Hingga sate yang ku pesan tersaji Lalu menyantapnya sepenuh hati (Ditulis ketika sedang menunggu pesanan sate yang tak kunjung tiba)

Pram Yang Terbuang

Arus balik, adalah buku pertama yang aku baca dari sekian banyak karyanya yang gemilang. Waktu itu aku masih di semester-semester awal menjelang pertengahan kuliah. Sungguh disayangkan baru mengenal penulis sekaliber dia di usia yang bisa dibilang sangat telat untuk melek buku-buku bagus. Jika tidak bergabung dengan unit kegiatan pers mahasiswa (UKPM) Unhas, mungkin akan lebih telat lagi aku mengenalnya. Sebelumnya aku hanya terbuai dengan novel-novel remaja atau detektif, dan buku inovasi, belakangan buku inovasi selfhelp atau apapun namanya tidak kusentuh lagi. Selanjutnya aku berkelana dengan tetralogi Pulau Buru dan semakin terkesima dibuatnya. Keempat buku itu sangat kaya dengan informasi dan dibangun dengan kekaguman dan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Setelah sekian lama tak membaca buku-bukunya Pram lagi, beberapa bulan lalu aku membeli Panggil Aku Kartini, tapi tak habis aku baca, entah kenapa aku tidak mendapatkan energi seperti di arus balik atau di Tetralogi...

Nenek Penjual Kantong Kresek

Oleh : Bang Midoen Hari Jum’at itu Matahari bersinar cukup menyengat. Ahmad bergegas menyelesaikan sisa pekerjaan menjelang waktu suara Adzan berkumandang memanggil   untuk menunaikan sholat Jum’at.   Setengah berlari, dengan sigap Ahmad mengganti sepatu dengan sandal jepitnya, yang setia menemani menapaki jalan ketaqwaan menuju arah Masjid Raya, yang biasa jadi pilihan   untuk sholat Jum’at, jika waktu dan pekerjaan di kantor agak sedikit longgar. Maklum antara Kantor tempatnya bekerja dengan Mesjid Raya kurang lebih berjarak satu setengah KM, cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki . Mesjid untuk sholat jum’at memang tersedia di lingkungan kantor, tapi hari itu Ahmad terasa rindu untuk Sholat Jum’at di Mesjid Raya, sudah satu bulan lebih sibuk dengan pekerjaan, sehingga baru kali ini sempat untuk sholat Jum’at di Masjid Raya. Jarak yang harus ditempuh menuju Masjid Raya kurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki, melewati taman kota yang siang itu ramai kar...

Ojeg Payung

Awan mendung menggelayut di langit. Angin berhembus kencang, berputar-putar membawa serpihan sampah daun dan plastik yang terserak dipinggir jalan raya. Sesekali terlihat kilatan cahaya petir disertai suara gemuruh. Beberapa Ibu Rumah Tangga terlihat keluar rumah untuk mengangkat jemuran pakaian yang sudah kering. Sore itu, Udin kecil baru saja tiba di rumah. Pulang dari sekolah yang jaraknya hanya beberapa ratus meter, Udin kecil berjalan kaki bersama kawan-kawannya. Seragam sekolah yang dikenakan hari itu diletakkan di ember penampungan pakaian kotor. Setelah berganti pakaian, Udin kecil menuju meja makan, membuka tudung saji, mengambil piring, lalu menyendok nasi dan lauk pauk yang tersedia. Ketika sedang makan, Emak Udin kecil keluar dari kamar lalu duduk di sebelahnya. "Eh... anak Emak udeh pulang, kok kagak kedengeran suaranye?kagak ngucap salam ye?" tanya Emak sambil bercanda. "Udin udeh ngucapin salam, Mak. Emak ketiduran kali, jadinye kagak denger!...

Mie Aceh

Seperti biasanya, kami sekeluarga mengisi acara akhir pekan dengan jalan-jalan, sekedar melepas penat dan silaturahim  pada masyarakat sekitar, atau untuk wisata kuliner. Malam itu karena situasi dan kondisi perekonomian kelihatan memungkinkan, ditambah kurs dollar berada pada nilai tukar yang ideal ( wih... ada hubungannya gak ? ), akhirnya jalan-jalan akhir pekan itu kami isi dengan wisata kuliner. Kami berangkat dari rumah, hanya dengan modal niat mau makan-makan, belum tahu mau makan apa dan di mana. Sampai pada saat kami lewat depan ruko yang jual mie aceh, anak-anak bilang, "K ita ke mie aceh yuk. "  Tapi entah kenapa, mungkin karena aku lagi gak selera sama mie aceh, aku jawab, " Gak lah, kita makan mie yang biasa saja... kalau malam-malam seperti ini cocoknya mie rebus biasa, " aku coba paksain alasanku. Kami jalan terus sambil tengok kanan kiri, sampai akhirnya pandangan tertuju pada warung tenda sebelah kanan yang dari tulisan di tendanya, adalah penjual...