Langsung ke konten utama

Nenek Penjual Kantong Kresek

Oleh : Bang Midoen

Hari Jum’at itu Matahari bersinar cukup menyengat. Ahmad bergegas menyelesaikan sisa pekerjaan menjelang waktu suara Adzan berkumandang memanggil  untuk menunaikan sholat Jum’at.  Setengah berlari, dengan sigap Ahmad mengganti sepatu dengan sandal jepitnya, yang setia menemani menapaki jalan ketaqwaan menuju arah Masjid Raya, yang biasa jadi pilihan  untuk sholat Jum’at, jika waktu dan pekerjaan di kantor agak sedikit longgar. Maklum antara Kantor tempatnya bekerja dengan Mesjid Raya kurang lebih berjarak satu setengah KM, cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki .
Mesjid untuk sholat jum’at memang tersedia di lingkungan kantor, tapi hari itu Ahmad terasa rindu untuk Sholat Jum’at di Mesjid Raya, sudah satu bulan lebih sibuk dengan pekerjaan, sehingga baru kali ini sempat untuk sholat Jum’at di Masjid Raya. Jarak yang harus ditempuh menuju Masjid Raya kurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki, melewati taman kota yang siang itu ramai karena ada pameran kuliner nusantara, yang menyajikan aneka masakan yang menggugah selera. “Kayaknya enak nih, kalo pulang sholat mampir di sini”. Ahmad bergumam sendiri, sambil menyusuri jalan setapak di taman kota.
Memasuki pintu gerbang Masjid, dilihatnya  seorang nenek tua penjual kantong kresek untuk bungkus sandal atau sepatu saat di mesjid, yang menjadi langganannya. Ada banyak anak-anak dan ibu-ibu sambil menggendong anaknya menjajakan kantong kresek, tapi Ahmad selalu membeli kantong kresek dari seorang nenek langganannya. Wajah nenek itu tampak berbinar saat bertatap mata dengan Ahmad. “Apa khabar Nek, maaf ya saya sudah lama tidak sholat disini”, sapa Ahmad sambil mencium tangan si Nenek, tidak lupa tangan Ahmad menggenggam erat tangan Si Nenek sambil menyelipkan selembar uang sepertinya pecahan seratus ribuan, sebagai ganti kantong kresek, yang biasanya diharganya tidak lebih dari 2000 rupiah.  “Alhamdulillah Nak, sehat, kemana saja sudah lama gak kelihatan?”, Si Nenek balas menyapa.  Badannya yang mulai sedikit bungkuk ditelan usia, dengan raut muka yang teduh, namun sayup matanya menampakkan bahwa dia sedang menyembunyikan beban hidup yang berat. Ingin rasanya Ahmad berbincang lama dengan si Nenek, untuk sekedar ingin tahu bagaimana kondisi cucunya saat ini, apakah masih bersekolah atau tidak. Karena setahu Ahmad, sekolah di Jakarta memang tidak dipungut biaya, namun  tetap saja ada biaya lain yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan alat tulis, sepatu seragam, dan  tas sekolah, dan itu terasa berat untuk si Nenek yang tidak punya penghasilan tetap.
Ahmad tahu betul kondisi si Nenek dari cerita pada pertemuan sebelumnya. Anak dan menantunya  telah  tiada, dengan meninggalkan tiga orang anak yatim yang kini menjadi tanggungannya. Berjualan kantong kresek setiap Jumat, sedikit membantu beban ekonomi karena   umumnya jamaah masjid menyelipkan uang ganti kantong kresek, lebih dari harga kantong tersebut. Jadi kalo dihitung-hitung si nenek bisa membawa uang setiap jumat kurang lebih seratus sampai dua ratus ribuan, lumayan untuk sekedar menyambung hidup beserta cucunya. Ahmad tidak tahu, apa penghasilan lain si Nenek. Nyatanya Allah Maha penyayang, tetap memberikan rizki kepada siapapun tanpa pandang bulu. Allah  Sang Pencipta telah menggerakkan hati Ahmad untuk sholat Jum’at di Mesjid Raya, karena disana ada skenario Allah menurunkan rizki kepada seorang nenek melalui perantaraan tangan Ahmad.
Hingar-bingar kesibukan pekerjaan terkadang melalaikan kita untuk dapat berbuat lebih, membantu kaum yang kurang beruntung. Mereka yang membutuhkan uluran tangan kita,  ada di mana-mana. Namun, sayangnya mata hati kita tidak cukup tajam untuk melihatnya. Terasa ringan untuk mengeluarkan ratusan ribu untuk sekedar memesan makanan melalui ojek online yang enaknya mungkin hanya selewatan lidah. Namun, terasa berat buat bagi sebagian orang untuk menyisihkan seribu-dua ribu rupiah setiap hari untuk mereka yang kurang beruntung. Ahmad mungkin hanya pegawai biasa di instansinya. Penghasilannya terbilang pas-pasan untuk ukuran hidup di kota metropolitan. Tapi Ahmad boleh jadi memiliki kecerdasan sosial di atas rata-rata pegawai lainnya.Kecerdasan itulah yang mengasah kepekaan Ahmad terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
 “Nek, adik-adik, ayo kita makan bersama”. Panggil Ahmad sambil membantu istrinya menyiapkan makan malam. Nenek tua dan tiga cucunya segera membalas panggilan Ahmad, sambil tidak lupa berucap syukur kepada Allah. Rupanya hari itu adalah hari pertama Nenek penjual kantong kresek dan ketiga cucunya tinggal bersama keluarga Ahmad. Awalnya si nenek bersikeras menolak ajakan Ahmad untuk tinggal bersamanya. Maklum, si Nenek merasa rikuh, karena Ahmad bukanlah siapa-siapanya si Nenek, tapi melihat ketulusan Ahmad untuk membantu, demi masa depan ketiga cucunya, maka Si Nenek tidak punya alasan lain, kecuali menuruti bujukan Ahmad.
Tinggal di rumah sederhana tidak membuat Ahmad lantas berkecil hati, untuk membantu keluarga Si Nenek. Ahmad yakin Allah meridloi tindakannya, buktinya setelah beberapa bulan berselang, suasana rumah Ahmad jadi lebih semarak. Rizkinya juga tidak berkurang, karena nyatanya Ahmad sekarang justru bisa merenovasi rumahnya untuk menambah kamar bagi adik-adik barunya, karena rizki adalah rahasia Allah Yang Maha Kaya, karena bersedekah dan membantu orang miskin, tidak akan membuat kita jatuh miskin.  
 Ahmad dan istrinya seperti  menemukan orang tua baru pengganti Almarhumah Ibunya. Sungguh indah dunia ini, jika banyak Ahmad-Ahmad lain yang bertebaran di muka bumi.  Tidak akan ada lagi gelandangan tinggal di bantaran sungai, di kolong-kolong jembatan dan dipinggir rel kereta api. Semoga akan banyak lagi Ahmad-Ahmad lain yang menyemarakan dunia ini, termasuk anda yang baca cerita ini, semoga.   

Komentar

  1. Saya suka kisah-kisah yang seperti ini mas, keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas, semoga inspirasi dapat terus mengalir

      Hapus
  2. nasehat bagus yang disampaikan melalui sebuah kisah, keren kang, lanjut gan!

    BalasHapus
  3. Saya baru sadar bang Midoen ini ternyata bukan cuma ahli bikin kajian. Terima kasih untuk cerita yanv menginspirasi

    BalasHapus
  4. Saya baru sadar bang Midoen ini ternyata bukan cuma ahli bikin kajian. Terima kasih untuk cerita yanv menginspirasi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....