Postingan

Ujian

Tulisan SaungKemangi menggugah saya untuk melihat kembali kejadian demi kejadian saat masih anak-anak soal “Keberadaan Allah?” Saya, saat itu masih sekolah kelas VI SD ketika beberapa anak senang bermain dengan teman sebaya, saya juga termasuk yang “lebih” senang bermain daripada sholat. Karena saya masih anak-anak dan belum  akil baliqh , jadi saya berpikir tidak ada kewajiban untuk melaksanakan perintah Allah. Makanya ketika ada pertanyaan itupun, saya santai dan tidak berpikir jauh. Dan perilaku sehari-haripun meski belajar mengaji, puasa dan sholat tarawih dengan membawa buku catatan agar bisa menyimpulkan khotbah nya mengenai apa dan mendapat paraf dari khotib saat itu, tetap aja masih gak mikir “Dimana Allah itu”. Hingga lulus SD, SMP hingga SMA, saya bahkan banyak mengikut kegiatan rohis dan dengan wejangan-wejangan khas anak rohis, saya tetap aja masih belum mikir soal “Dimana Allah itu?” Karena saat SMA, saya punya motivasi ikut kegiatan ekstra kurikuler agar bisa dekat d...

Menjemput Cinta (Bagian Keenam - Ending)

Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Kinasih memasuki babak baru dalam episode kehidupannya menjadi seorang isteri. Kini, ia sedang menikmati masa kehamilan. Janin yang berada di dalam kandungannya merupakan buah cinta ia dan suaminya, Toni. Kandungan Kinasih kini sudah berusia 35 minggu, artinya, tidak lama lagi Kinasih akan menjalani proses persalinan. Semua perlengkapan untuk bersalin serta perlengkapan bayi sudah ia dan suaminya siapkan sejak dua bulan yang lalu. Hampir setiap bulan ia ditemani suaminya rutin memeriksakan kesehatan kandungannya. Memasuki bulan ke tujuh, janin yang berada didalam kandungan sudah diketahui jenis kelaminnya melalui proses pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Betapa bahagianya Kinasih dan Toni ketika dokter kandungan menyampaikan bahwa kandungan Kinasih diperkirakan berjenis kelamin perempuan. Air mata menetes dari dipipi Kinasih, begitupula Toni, berkali-kali lisannya mengucapkan rasa syukur. Disuatu hari Jum'at setelah shalat Subuh, ...

STANDAR (g)ANDA

Gambar
“Wah parah lu, menghina agama gue lu, lu kan ga boleh bahas-bahas agama gue, penistaan itu namanya”, kata Jonny pada Dwi. “Lah, elu sendiri suka bahas-bahas agama gue”, jawab Dwi. “lah, itukan beda bro. Gw kan mau ngasih tahu yang bener ke elu”, tangkis Jonny. Standar ganda sendiri tidak ada penjelasannya dalam KBBI daring tapi saya menemukan dalam wikipedia dan berbagai website berbahasa Inggris. Kalau menurut wikipedia bahasa Indonesia begini kira-kira ” Standar ganda adalah ukuran standar penilaian yang dikenakan secara tidak sama kepada subjek yang berbeda dalam suatu kejadian serupa yang terkesan tidak adil. Konsep standar ganda telah diterapkan sejak tahun 1872 terhadap fakta struktur moral yang sering diterapkan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan bermasyarakat.” Kurang lebih sumber-sumber lain berbahasa Inggris pun sependapat jika standar ganda awalnya adalah pembeda konsep moral antara laki-laki dan perempuan dalam hal hak, perlakuan, c...

Atribut Yang Bikin Ribut

"Dunia ini baik-baik saja, sampai kita mulai membanding-bandingkan" Menjelang sholat Jumat saya iseng membuka BnD, ternyata ada tulisan yang sangat menarik dari Saung Kemangi (http://www.bukannotadinas.com/2017/10/di-mana-tuhan.html). Tulisan sederhana namun sangat "makjleb", karena terus terang seumur-umur saya pribadi tidak pernah bertanya seperti itu. Islam warisan, mungkin itu yang tepat menggambarkan kondisi keislaman saya. Tapi disini saya tidak akan mendiskusikan soal tersebut ataupun mencoba menjawab pertanyaan "Dimana Tuhan?". Tulisan Saung Kemangi tersebut menginsipirasi saya tentang pertanyaan-pertanyaan lain yang sering muncul yang mungkin pada akhirnya akan bermuara ke hal yang sama: dimana Tuhan?. Manusia seringkali lupa bahwa mereka adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah. Apapun kondisinya, karena hal tersebut sudah tertulis di kitab-NYA. Fakta bahwa ada manusia yang tercipta tanpa anggota tubuh yang lengkap atau deng...

What to notice: Pick up your skin care and cosmetics products

Not everybody is born and grew with the same skin; the color tone, the appearance, the moisture, and the problem they face. A person might be having good and glowing natural, perfect skin, while the others face acne and big pores, drying, and oily ones. Talking about skin and appearance is like talking about love: very personal. Thinking about our look is actually a form of selfishness. Yes, it’s a very normal for me (in the normal range) and even it’s in particular circumstance needed more than as an additional beautifer but as a way to be keeping “exist”, sometimes. It sounds too far to say that. Imagine you are an artist, your care of how your skin look will be expected higher than a nonpublic figure. The way we love our skin and look is different in one person to another. Since everybody has their own priority and perspective in looking upon life. A woman might be loving to take care of her kids and households only and a bit ignoring her looks, while the other is very care of ...

Di Mana Tuhan?

Tetiba saya disergap pertanyaan itu oleh seseorang menjelang masuk elevator menuju ruang kerja. Kami hanya bertiga waktu itu, tapi pertanyaan tiba-tiba itu cukup membuat saya sangat kikuk dan kaget. Ehh … serius atau bercanda nih? Berseloroh hal mendasar di lift ? Untuk meyakinkan, saya beri ‘umpan’, “Wahh buat apa bertanya begitu, Pak? Maqom saya belum sampe, kayaknya,” tidak lupa menebar senyum.”Lho … bukan soal maqom-maqoman , mbak. Supaya ibadah kita lebih khusyuk kalau kita tahu di mana Tuhan.” Nampaknya serius, tapi perjalanan lift kan tidak lebih cepat dari (sekitar) 5 kedipan mata. Saya tidak bisa bermain voli, tapi saat itu saya merasa menjadi seorang tosser dadakan, melempar pertanyaan kepada muslimah anggun berhijab di sebelahnya, “Mungkin mbak Anggun bisa jawab, Pak … hehehe.” Si bapak menatap mbak Anggun sambil tetap melibatkan saya dan berujar, ”Pakai jilbab kan biasanya sudah punya ilmunya.” Ehmm… rasanya seperti kena smash . “Wah, jadi kita mau bicara di level ...

Berbagi Jalan, Berbagi Kehidupan

Beberapa waktu lalu terdengar lagi berita tentang seorang pesepeda yang meninggal karena tertabrak sepeda motor. Ini bukan kejadian pertama yang menimpa pesepeda. Sudah banyak kasus-kasus serupa, dari sekedar luka ringan sampai merenggut jiwa. Terlepas dari ajal yang bisa merenggut dimana saja dan dengan cara apa saja, kematian para pesepeda di jalan raya menunjukkan bahwa bersepeda di jalan raya bukanlah kegiatan yang aman. Harapan para pesepeda untuk memiliki infrastruktur yang memadai, aman dan nyaman bukannya tidak disuarakan dan diakomodir, tetapi memang belum bisa dikatakan memenuhi harapan yang paling minimal sekalipun. Jalur sepeda sudah ada di beberapa tempat, namun utilisasi-nya masih sangat minim. Okupasi jalur oleh pengendara kendaraan bermotor masih dominan. Diskusi mengenai hal ini berujung pada perdebatan tanpa akhir, seperti mempertanyakan mana lebih dulu? telur atau ayam?. Harus diakui bahwa perilaku pengendara kendaraan bermotor belum sepenuhnya ramah terhadap pe...