Saya menulis, bukan karena tahu semua jawaban, tetapi karena pertanyaan masih menempel di dinding kepala, bergaung seperti gema yang enggan padam. Saya menulis, sebab kebodohan saya bukan akhir, ia hanya jalan lengang yang menuntut langkah, sebuah kesalahan yang menuntut koreksi, sebuah ketidaktahuan yang memohon cahaya. Saya menulis, karena di setiap kata ada kemungkinan, di setiap kalimat ada celah belajar, dan di setiap salah eja, ada pintu menuju pengertian baru. Saya menulis, karena saya masih bodoh, dan mungkin akan selalu bodoh, tapi di antara huruf-huruf ini, saya belajar mencintai kebodohan saya, sebagai alasan untuk terus mencari, sebagai alasan untuk tidak berhenti Jadi, jangan kira saya menulis karena sudah sampai. Saya menulis karena saya masih berjalan. Saya menulis karena saya masih bodoh, dan barangkali akan terus begitu. Tapi biarlah, selama tinta ini mengalir, kebodohan saya tidak diam, ia terus belajar, ia terus mencari, ia terus menulis. Dr. M. Lucky Akbar, K...