Postingan

The Art of Detachment : Befriending My Quarter Life Crisis

​ by: Ash Beige Baby I just had an encounter with… something. Or someone. I am still not sure. But it shook me awake. It snapped me out of a fragile version of myself I once believed was permanent. This is the first time I share this in public (if it can even be called a secret). So I was in the middle of what people politely call a quarter-life crisis, that quiet season where we feel misplaced in every room, trash, belongs to nowhere, attached to no one. I felt like I had to fake my personality just to exist, and even build temporary shelters out of strangers with small talk, pretending they were homes. I'm a fool. Then I was exposed to an idea. A simple one. The kind we think we understand until it reaches our life and refuses to stay theoretical. It sounded easy, almost gentle. But when it dragged me into reality, it became something else entirely.. a wicked, beautiful bittersweet. Anyway, I wrote this while sitting by the lakeside with a glass of strong matcha latte in my hands...

Asytaqu Ilaika

By: Ash Beige Baby Pada langit aku berbisik, tentang gema yang menetap yang datang seperti bayang senja yang menolak tenggelam. Pada langit aku berbisik, kutitip satu rahasia yang tak pernah berani kuucap kepada apa atau siapa. Suara itu seperti nyala redup yang lupa jalan pulang, yang masih mencoba hidup meski tak bisa utuh Aku tidak meminta kembali, aku hanya menitip ini pada angin penjelajah yang tak mengenal nama yang tak peduli arah Jika sampai, biarlah sampai. Jika tidak, biarlah hilang. Mungkin ia bisa tiba, ke tempat yang tak mungkin kujangkau, atau malah memilih lenyap? di balik cakrawala seperti cerita yang sengaja terlantar Tidak selesai Nanti bila suatu hari langit menua dan angin pulang tidak bawa apa-apa Aku simpan ini sendiri saja Sebagai rahasia purba yang hanya dimengerti alam, bukan manusia. Dan baru kali ini aku paham apa yang Khalil Gibran coba sampaikan وَفِي اللَّيْلِ أَسْمَعُ صَوْتَكِ فِي صَمْتِ الْقَلْبِ، وَأَرَى وَجْهَكِ فِي ظَلَامِ الْعَيْنَيْنِ Dan di malam h...

Menjadi Orang Baik

  Setiap hari Rabu, Anna selalu memeriksakan kesehatannya. Ia memiliki masalah pada lambung yang mengharuskannya menjalani kontrol rutin setiap minggu serta mengonsumsi tiga jenis obat lambung untuk meredakan nyeri. Anna adalah anak yang mudah bingung dan sering linglung saat berada di luar rumah karena sehari-hari ia terbiasa berada di rumah sendirian. Ia juga kerap berprasangka buruk terhadap orang lain yang berbuat baik kepadanya. Anna tidak percaya bahwa ada orang yang tulus selain keluarganya, yaitu orang-orang yang ia kasihi. Menurutnya, jika seseorang bersikap baik, pasti ada imbalan yang diharapkan dari kebaikan tersebut. Pagi itu, seperti biasa, Anna bersiap untuk melakukan kontrol rutin ke dokter. Ia sangat menyukai dokter yang menanganinya. Anna merasa dokter tersebut tulus membantunya, meskipun dalam pikirannya ia tetap menyadari bahwa pelayanan itu diberikan karena dibayar. Setelah mempersiapkan diri, Anna berangkat ke rumah sakit dan tidak lupa sarapan terlebih da...

Refleksi Diri

  Tak apa jika hari ini tidak sesuai ekspektasi Karena tak semuanya butuh divalidasi Cobalah semua proses dinikmati Pasti menyenangkan hati   Jika harimu terasa kacau Terima saja kekacauan itu Bukan berarti hidupmu kacau Jadi tenang saja Semua akan terlewati dengan baik   Tak apa jika hari ini terasa berat Mungkin hari esok kau akan memetik hasilnya Berjalanlah perlahan saja Tak perlu terlalu mengejar Hidup ini bukan perlombaan Tapi proses perjalanan yang panjang

Memaafkan

  Kerelaan untuk melepas Kerelaan untuk tidak lagi mengingat Bukan demi kebahagiaanmu Melainkan demi ketenanganku Upaya bangkit perlahan Penerimaan atas keadaan Itulah jawaban yang kutemukan

Nostalgia di Teras Tua

  Radio tua memutar lagu lama, Iramanya sendu menyayat kalbu. Kita pernah duduk bersama, Di teras ini saat waktu berdebu.   Kini kursi di sampingku kosong, Hanya ada cangkir teh yang dingin. Malam terasa begitu bohong, Membawa rindu yang tak kuingin.   Kenangan lama berputar kembali, Seperti film di layar yang hitam. Waktu tak mungkin bisa dibeli, Hanya tersisa rasa yang kelam. Biarlah lagu ini berakhir, Bersama redupnya lilin di meja. Malam ini duka mengalir, Menghapus semua tawa yang bersahaja. Jakarta, 27 Januari 2026 

Menanti Cahaya Pagi

  Gelap malam hampir berakhir, Bintang-bintang mulai bersembunyi. Udara pagi mulai mengalir, Mengganti sunyi  menjadi  bunyi.   Terima kasih wahai kegelapan, Telah memberi waktu untuk rehat. Kini datanglah sebuah harapan, Untuk hidup yang lebih sehat.   Matahari akan segera muncul, Membawa sinar yang paling terang. Semua rencana kini berkumpul, Siap untuk kita bawa berperang.   Malam pergi membawa cerita, Pagi datang membawa tenaga. Mari hapus semua air mata, Demi masa depan yang berharga. Jakarta, 27 Januari 2026