Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Critical Pedagogy

“Biasa ‘kan ganti pejabat ya ganti kebijakan”, celetuk bu Doktor Anita pada salah satu grup WhatsApp yang sedari pagi riuh beberpa waktu yang lalu ketika menanggapi program MBKM-nya om Nadiem.     MBKM, Mahasiswa Belajar Kampus Merdeka. Terobosan pak Menteri yang ternyata tidak sesederhana nama yang digaungkan. Banyak komponen yang harus dikaji, dievaluasi dan direvisi sehingga memaksa para pelaku pendidikan untuk benar-benar paham esensinya sebelum ikut serta dalam implementasi kebijakan tersebut agar tujuan yang diharapkan tercapai maksimal.   Dari filsafat ilmu Pendidikan, kata ‘merdeka’ merupakan salah satu implementasi teori Paulo Freire tentang  ‘critical pedagogy’  atau ‘pedagogi kritis’. Pelajar distimulasi agar dapat berpikir kritis terhadap perkembangan sosial dalam bidang pendidikan, khususnya pada sistem, kebijakan, dan atau metode pengajaran (pedagogi) dalam arti luas. Pendidikan yang mengajarkan keadilan, kesejahteraan sosial dan demokrasi yang tid...

DESEMBER: CERITA DAN AIR MATA

Senin sore di penghujung Desember 2021,   Hujan masih menyisakan aroma sejuknya … Hari-hari yang cukup melelahkan, dengan berbagai tenggat akhir dan awal tahun.   Aku beranjak dari meja kerjaku; Laptop yang masih menyala, tumpukan kertas, peralatan tulis, air es pada 2 botol beling dengan masing-masing tersisa setengahnya, kudapan dan gawai yang tersambung pada saklar listrik dalam posisi  ‘charging’   Aku melirik ke jam dinding sejenak, pukul 17.25 … lalu mendekat ke jendela, menyibak tirai putih tipis yang sedari tadi bergerak mengikuti irama angin …    Ah … bau tanah tersiram hujan selalu mampu menenangkan penat …    Aku membuang pandang ke luar, menghadiahkan netra dengan tanaman-tanaman hijau yang berjejer rapi pada pot-pot keramik besar di teras …    Sudah dua lustrum berlalu, namun cerita di penghujung Desember satu dasawarsa yang lalu masih tetap bergala.   “You know what? I can’t stop thinking of you here! I really miss you...

Tragedi Negeri Basa Basi (II)

s tok sopan santun di pasar sudah kosong konon katanya hari ini semua ludes di borong orang orang tanpa minta harga dipotong membawa pulang berkantong kantong semua bermula dari cerita  entah salah atau benar adanya sopan santun bisa sangat meringankan hukuman yang dijatuhkan untuk pesakitan Beginilah jadinya sekarang di tengah kita para pesohor dan pembesar kota rame  korupsi atau melanggar pranata dan melakukannya dengan sangat sopannya  mengambil hak orang atau mencuri seperti  mengambil milik sendiri mengangkangi hukum atau regulasi seperti tanpa malu atau rasa risi  sesekali mungkin ada yang ditangkap polisi mereka akan berlaku sangat rendah hati menebar senyum mengabarkan alibi yang terjadi sekedar ujian diri mohon doa dan dukungan untuk kuatnya hati Ah mereka sungguh sangat sopan sekali! di depan majelis pengadil yang dihornati mereka tampil  sangat  rapi dan wangi tutur katanya runtut teratur rapi  gesturnya tertata menarik simpati siapa...

Kaleidoskop (1)

Januari, aku mengejar kau menjauh. Februari, aku mengejar kau menjauh  Maret, April Mei Juni Juli Agustus ... Desember, Masih begitu alur kisah Aku tak menyerah Kau tak juga lelah (entah nulis apa ini, 121221)

Tragedi Negeri Basa Basi

  Di hari anti korupsi Para koruptor pun cuti sehari Rehat sejenak untuk berkontribusi Ikut teriak " katakan tidak pada korupsi" Besok harinya  mulai lagi (Sutikno Slamet, 091221)

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN HUNJAMAN RINDU

Hujan. Lelaki ini suka hujan. Tak peduli di bulan Juni, November atau Januari. Seperti sore ini. Beberapa hari menjelang pergantian musim. Langit menumpahkan triliunan tirta. Berbaris rapi menuju bumi. Mendarat dengan tertib di atap-atap rumah, pohon, daun, dan tanah. Meluruhkan debu bagai sang ibu memandikan bayinya. Tidak tergesa, tidak pula terlena. Titik-titiknya terorkestrasi dengan indah. Menghadirkan rindu. Hujan yang awet, ujar Perempuan itu di suatu waktu. Lelaki ini teringat kembali waktu itu. Hujan yang sama. Lelaki ini dan Perempuan itu duduk di teras rumah. Secangkir kopi sachet dan semangkok mie, cukup sudah. Perempuan itu juga suka hujan. Tapi di bulan Juni. Aku selalu ingat saat pertama kita jumpa, jawab Perempuan itu ketika Lelaki ini bertanya kenapa. Saat itu bulan Juni, hari hampir berganti. Tapi hujannya tidak seperti ini. Bagaimana kalau tidak ada hujan di bulan Juni? Apakah lalu kamu tak ingat aku? kejar Lelaki ini. Perempuan itu merajuk. Bahkan saat hujan tak tur...

aku punya seorang kawan

  aku punya seorang kawan di  dadanya tersemat tugas mulia menjaga uang rakyat agar terbagi secara cermat mewujudkan besarnya manfaat   sekali saja dia   abai atau hianat, membiarkan patgulipat atau bahkan terlibat maka hancurlah seluruh martabat tertanggung akibat sepanjang hayat   kawanku begitu teguh pada prinsip diri sepanjang tugasnya sering dijumpai keteguhannya akan diuji dari depan belakang dan semua sisi   konon terkadang dia diuji iba dan empati tema kemiskinan yang menjadi   komoditi, seakan jika usulan   tak disetujui dia dianggap telah kehilangan kesejatian insani   sesekali   dia perlihatkan usulan   program si miskin nan melarat begitu gemerlap disusun dalam surat menyurat, begitu indah dalam bual bual buku proposal tapi menurutnya tak pernah menjawab yang jadi soal bantuan si miskin dan anak terlantar kadang tak sampai terhantar yang sungguh miskin konon kerap l...

Selamat Siang Tuan

Selamat siang tuan, hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan, banyak sekali yang harus di kerjakan coba kau lihat, hari ini dia masih terengah engah menghela nafas sejak dua tahun lalu pandemi covid meretas hari ini  kerjaannya belum lagi tuntas   dari seluruh negeri masih terasa  isak sedih tangisan mereka  mereka yang yang ditinggalkan terduduk  memandangi berangkatnya mobil  mobil ambulan, b ergantian membawa muatan yang  bernafas tersengal menuju perawatan atau terbungkus tebal menuju kuburan, hingga raung sirena menghilang di kejauhan   Selamat siang tuan hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan, dia hadir mengupayakan tersedia vaksin dan obat obat vitamin penambah daya tahan, menjaga agar  sakit dan mati tak banyak berulang,, dan kasus covid semakin berkurang mengupayakan  para tenaga medis,dokter perawat penggali kubur tentara polisi petugas petugas yang sedang bahu...

Pada suatu petang

Pada Suatu petang ada yang hilang, ketika kau pulang Ruang riuh menjadi lengang dan hampa sebenarnya apa yang tak sengaja, tadi kau bawa serta? (Stasiun Juanda, 3 Des 2021)

Punakawan, tak Sekedar Penghibur

       Dalam kisah perwayangan di Indonesia, kita sering mendengar adanya para punakawan yang biasa disebut juga dengan goro-goro. Kehadiran para punawakan ini, sangat dinantikan oleh penonton karena mereka menyuguhkan komentar, lelucon bahkan kritikan yang menghibur.       Punakawan yang terdiri dari Semar, bersama dengan ketiga anaknya, Bagong, Petruk, dan Gareng selalu tampil menyegarkan suasana pertunjukan. Gelak tawa selalu ditimbulkan oleh ketiga punakawan ini, baik melalui gerak-geriknya, maupun celotehannya. Mereka hadir sejenak di tengah konflik atau cerita inti dari kisah pewayangan sebagai abdi dari tokoh utama, namun sejatinya punakawan ini bukan hanya sekedar abdi, mereka juga berperan sebagai penasehat bagi tokoh utama. Mereka hadir ketika tokoh utama dalam kisahnya mengalami konflik/dilema dalam kehidupan, sosok punakawan inilah yang dapat memberikan panduan bagaimana jalan terbaik yang harus dipilih oleh tokoh tersebut, meskipun di...

Blessed Silent Sunday

Enjoying my blessed silent Sunday morning,   Segelas teh hangat, Semangkuk sup, And, music!   These will be more than enough to recharge my soul, refresh my mind, and re-energize my heart …     *** Remember when I told you, No matter where I go, I’ll never leave your side You will never be alone,   Even when we go through changes, Even when we’re old,   ……   And I told you right from the start, You just say the word and I’ll go, No, it doesn’t matter how far, ‘Cause your love is all that I know,   …..   I’ll find my way back home     *** Way Back Home  [Shaun feat. Conor Maynard]

Ketika Hujan Bermakna Sama

  Hujan!   Tak ada yang berbeda setiap tahunnya, Sama seperti anganku, Berharap dipertemukan kembali walau cuma sejenak   Tidak untuk mengusik yang telah lalu, Tidak juga untuk merajut ulang yang telah tebang, Hanya ingin meminta tatap   Agar kau tau, Sebesar apapun rasa sakitmu, Takkan pernah mampu melampaui rasa rinduku

Semprong

Puisi Ntah apa yang bisa kau janjikan untuk kami Ketenangan hati? Manifestasi nurani? Oh, ayolah Tak ada yang salah dari dunia modern ini Sedari dulu, bukankah kita sudah mengharapkan kedatangannya Segala upaya telah kita lakukan untuk mempersiapkan landasan dunia modern ini, lalu setelah dia sampai dengan barang bawaannya, kita sambut dia, kita tempatkan dia pada segala aspek yang melekat di diri kita. Input, proses, output diri kita harus MODERN!  Puisi Kau datang kembali,  Kau babak belur Barang bawaanmu dicuri Kau tak indah lagi Kau tak berarti apa-apa dibandingkan modernitas ini Puisi Apa lagi yang hendak kau sentuh di hidup kami Kau tak memiliki tempat di sini Enyahlah! Sedang modernitas ini begitu menggiurkan, kami ingin melesat dan menemui kehancuran yang disembunyikannya! Puisi Menyingkirlah! Semprong modernitas! Kami tak ingin terlambat! Kami ingin lumat dan tamat tanpa terlambat! 

Intrusi

Kau berkelana di dalam kepalaku Mencari-cari apa yang salah dari makna "bertanya" Kau katakan aku tak patut dan tak turut Menerka-menerka pikiran masa depanmu yang tertinggal di belakang Kita hendak berencana membuat perubahan, katamu Sebagai respons perubahan yang lebih dulu berubah, kataku Kau ajak aku ke dalam ceritamu Aku kesepian, ternyata sebagai pengarang, kau miskin fondasi dan substansi Semua benda mati yang ada di sekitar kita menjadi bermakna karena pemaknaan yang kita berikan sendiri, diri yang mengalami, diri yang bercerita, diri yang mengarang dan membual narasi dengan semaunya, ya, itulah kita, dengan pemaknaan itu juga kita saling menyakiti. Selamat merasakan sakit. Besok kita teruskan, terus kita rayakan dengan pemaknaan (re: bualan) baru yang lebih rapi dan bermutu

Belajar

"Mencipta adalah bentuk pemberontakan kita"      Begitu sebaris kalimat yang ditulis oleh Iwan Simatupang kepada sahabatnya Sularto dalam buku Surat-surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966. Dari membaca kata pengantar yang ditulis oleh Frans M. Parera pada buku tersebut, aku benar-benar diantarkan kepada sosok intelektual Iwan Simatupang, yang moderat, yang sebisa mungkin berusaha tak ternodai oleh kubu mana pun yang sedang bertarung saat itu, yang mencoba mencari jalan dan pikiran alternatif sendiri. Buku yang belum habis kubaca itu berisi surat-suratnya dalam menanggapi situasi sosial, ekonomi dan budaya Jakarta, yang gundah, yang resah, yang tak sabar menunggu jawaban. Aku mencoba menulis keterangan tambahan atas dasar kemandirian pikirannya. Kurang lebih seperti ini:     " Dalam konteks belajar dari orang-orang yang lebih pandai, kita tak berniat menjadi epigon-epigon tanpa karya dan otentisitas yang nyata. Mungkin, kita mendongak kepada mereka pada kurun wa...

It's the mapping of my mind ...

‘Mind Map’ atau pemetaan pikiran, umumnya dibuat dengan berbagai cara kreatif (biasanya menggunakan cabang-cabang) sebagai deskripsi konsep kerja pikiran dan koneksinya di dalam otak.   Karena saya tidak terlahir di era digital, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai ‘digital-native’, lalu mencoba bertanya kepada admin untuk bantu mengatasi ke-gaptek-an dalam hal unggah2 gambar, namun belum juga ada respon, maka pikiran yang sudah saya petakan sedemikian rupa, saya sederhanakan …   ‘Past events’  >>> S + V2 + O In fact,         >>> S + have/has + been + Ving + O   ‘Present’       >>> S + V1 + O In fact,         >>> I + wish + I could … The examples of the sentences: He grabbed my heart >>> He has been grabbing my heart I let him go >>> I wish I could let him go  HOW DO YOU MAP ...

Atasan dan Bawahan

Ntah Aku bingung Ntah Ntah apa jarak yang merentangi kita Dalam banyak kesempatan Kau berjalan dengan pikiran yang tertumpuk lama Rahim dari pengalaman Sari dari peradaban Sedang aku Anak zaman yang lain pula Rahim dari ketidaktahuan baru  Sebab berkah dan masalah bagimu Atasan Apa kau sedang memperhatikan dari menaramu Apa kau sedang mengamati dan menyusun strategi di sana Untuk membangun jembatan ketidaktahuan ini Bawahan Apa yang sedang kau lihat Kepalamu lelah mendongak ke atas sana Menunggu cucuran kebijaksanaan? Atasan dan bawahan Mengapa kau masih bersarang di zaman modern ini Mengapa kau tak ikut pergi bersama perkakas masa lalu Mengapa kau masih ada sebagai jarak yang menghalangi kami Sedang aku Masih mencari padanan yang setara Antar manusia dan manusia Di zaman modern ini Atasan dan bawahan Jangan kau renggut keakraban kami Pergilah jauh Teriaki dan umumkan bahwa dirimu adalah residu waktu dulu Kami, diri kami ini Akan sudah punya pengganti Istilah alternatif yang mendek...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN DUA HATI YANG TAK LAGI SATU

Perempuan itu menuliskan hidupnya. Tintanya air mata, jeluangnya serpihan hati. Merangkai diksi dengan hati-hati. Penuh arti namun tetap tersembunyi. Perempuan itu tahu, tak mungkin bebas dari terungku. Tidak saat ini, disaat masih memperjuangkan buah hati. Entah nanti, meski dia tahu mungkin itu artinya mati. Perempuan itu lelah. Perjalanan melelahkan ini tak pernah terangan-angan olehnya. Namun semua  sudah tertulis, tiada daya kecuali berprasangka baik bahwa inilah yang terbaik. Perempuan itu juga sadar, dirinya tangguh, harus begitu. Tak boleh luluh. Tidak saat ini, saat cita-cita hampir diraih. *** Di sudut lain kota, hanya berjarak sekian depa, lelaki ini terlucuti. Membaca cerita yang penuh drama. Seolah tak nyata namun penuh fakta. Ada tawa di sana, banyak juga air mata. Bagai piala, berpindah-pindah di tangan sang jawara. Lelaki ini terkadang bahagia, dirinya bukan satu-satunya. Tapi kisah-kisah itu memaksa untuk percaya bahwa dia-lah penyebab semua malapetaka. *** "Kamu ...

Sorganya Sederhana

Suatu senja,, Binar Cahaya anak nomor lima tergopoh cerita, tentang sorga, yang didengar dari ustadzah di madrasah samping rumah sorga itu katanya negeri di mana terjawab damba tanpa tunda terkabul pinta  tanpa jeda maka katanya, kelak di sana dia minta  hape saja, biar segala waktu bisa nonton nastya dan ayahnya tanpa tunda tanpa jeda #menjaga cahaya #binar

[TUNA] RENJANA

  Aku bersiap menguatkan hati …     Diantara berbagai tugas yang mau tidak mau harus dikuti serta setumpuk kegiatan yang aku cari-cari, lelah sekali rasanya membagi ruang untuk berpura-pura menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya … ‘rasa tidak nyaman’, tapi aku tidak punya pilihan selain harus tetap bersikap ‘manis’ agar semua terlihat wajar …   “Kamu berdo’a untuk aku ya, transaksi ini bukan main-main, do’a seorang istri itu sangat mustajab untuk kesuksesan suaminya …”    Aku mengangguk, lalu bersegera menyambar gelas di depanku, menikmati air dingin yang mengalir di tenggorokanku, menghindar bertatap mata …   Laki-laki itu menghisap rokoknya dalam,  Guratan usia sudah terlihat jelas di wajahnya yang tampan …  Penampilannya kali ini terlihat sedikit berbeda,    “Lawan bisnisku ini owner sebuah perusahaan di UAE, kamu tolong siapkan baju yang cocok, pertemuannya di hotel bukan di kantor, jadi jangan terlalu formal juga …” (permi...

PowerPoint: How Powerful are You?

Senin, Pukul 10.30     Dismissed!   Kelas dengan total kredit 3 sks di pertemuan kedua semester ini berakhir dengan pesan-pesan singkat, mengingatkan mahasiswa untuk membaca modul, memahami, membuat resume untuk didiskusikan di pertemuan selanjutnya.   ‘English for Effective Presentation’   merupakan salah satu subjek yang saya ajarkan setiap tahun sejak 2013.    Dan biasanya program presentasi yang dijadikan contoh pembahasan utama adalah ‘PowerPoint’ karena program ini terbilang lebih aplikatif dan banyak digunakan dibandingkan beberapa program serupa seperti Prezi, Google Slides, Keynote, Powtoon dan lain-lain.   Program yang dibuat oleh Gaskins & Austin dan dirilis pertama kali di tahun 1990-an ini sepertinya menjadi salah satu pilihan utama para praktisi ketika ingin menyajikan materi mereka dalam berbagai kegiatan.     PowerPoint >>> … when the presenter has ‘the power’ to convey the message through ‘points’ ...