Langsung ke konten utama

Es Kelapa Muda dari Langit

Beberapa menit menjelang waktu istirahat, telepon yang ada di ruang kerjaku berdering. Ada masalah aplikasi apa lagi nih. Pikirku ketika berjalan mendekat untuk mengangkatnya. Waktu itu satu-satunya alat komunikasi antara pengguna dan tim aplikasi hanya melalui telepon, tidak seperti sekarang yang bisa juga melalui SMS, WA atau layanan online lainnya.

"Yah, ada om Luki ke rumah", kabar yang aku terima dari istriku setelah sebelumnya kami saling berbalas salam.
Aku sudah lama tidak bertemu adikku meski jakarta dan bandung bukan jarak yang jauh untuk saling berkunjung mempererat tali silaturahim.
Tentu ini kabar yang sangat menggembirakan. Memang sejak senin tiga hari yang lalu adikku ada tugas kantor selama lima hari di Bandung, dan pada hari kamis ini sepertinya baru sempat main ke rumah.
Aku segera pulang ke rumah yang kebetulan jarak rumah kontrakan kami tidak jauh dari kantor. Jalan kaki kurang lebih sepuluh menit juga sudah sampai.
Tapi perjalanan pulang kali ini terasa lebih lama dari biasanya. Ah, mungkin hanya karena tak sabar ingin bertemu adikku.


"Maaf, sudah menunggu lama", pintaku sesaat setelah kami berangkulan dalam kehangatan rindu-rindu kami selama ini.
"Mba Alfi lagi jemput Muslimah, Mas," buru-buru Luki memberi informasi ketika tahu aku celingak-celinguk ke setiap ruang di rumah.
Sebetulnya Muslimah, anak sulung kami biasa pulang sendiri. Sekolahnya juga tidak jauh dari rumah. Mungkin khawatir main ke rumah temannya, isteri merasa perlu menjemputnya. Anak-anak juga harus bertemu pamannya.

Di tengah obrolan yang penuh semangat itu, tidak lengkap kalau tidak ada hidangan yang menemani. Segera aku ke penjual bakso Solo yang lokasinya persis di depan rumah. Rumah kontrakan kami bisa dibilang ada di tengah-tengah pasar. Tetangga-tetangga kami adalah para pedagang yang tak pernah sepi dengan segala hingar bingar transaksi dan celotehan iseng khas orang-orang pasar. Seru banget.

"Es kelapa muda dua ya mas, gak pakai lama," kataku sambil melontarkan candaan supaya aku tidak berlama-lama menunggu pesananku. Siang itu udara di Bandung memang sedang panas-panasnya.

Aku segera balik ke rumah untuk melanjutkan obrolan yang sempat terputus tadi. Mas Tarno, si penjual bakso Solo benar-benar memenuhi permintaanku. Es kelapa muda cepat terhidang di meja ruang tamu dan tentunya kami tak sabar untuk menikmatinya. Udara panas dan es kelapa muda memang pasangan yang sangat ideal, memberi efek kesegaran yang berlipat-lipat. Alhamdulillah.

"Assalamu'alaikum", isteriku bersama dua anak kami, Muslimah dan Aminah, menghentikan keseruan obrolan kami. Anak-anak langsung memburu cium tangan dengan pamannya ketika aku sedang asyik menikmati es kelapa muda di gelas yang hampir tak bersisa.
Sementara isteri memalingkan pandangannya ke arahku tanpa menyembunyikan keheranan dan sedikit menahan senyumannya.

"Loh, ayah kan lagi puasa", buru-buru isteri mengingatkanku meski gelas yang dari tadi aku pegang tak ada tanda-tanda masih ada isinya. Aku langsung mengucap istighfar, baru tersadar kalau hari itu memang sedang puasa. Meski tidak rutin, kadang-kadang kami puasa sunnah senin kamis.

Setelah diyakinkan isteri dan adikku, aku tetap melanjutkan puasaku. Hari itu menjadi hari yang berkesan, menjalani puasa paling ringan dalam sejarah.

"Coba kalau tadi sekalian beli bakso ya," selorohku yang kemudian diikuti tawa yang melengkapi kebahagiaan kami.

Lupa tidak selalu berkonotasi negatif. Adakalanya Tuhan memberi rezeki-Nya melalui cara yang unik ini, karena sampai saat ini belum ditemukan metode bagaimana merencanakan kapan dan dimana kita akan lupa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....