Langsung ke konten utama

Tetrachromats


Tulisan ini merupakan bagian dari serangkaian tulisan tematik mengenai keajaiban angka 4. 



Kali ini saya akan beranjak dari sisi psikis ke alam material atau nyata, yaitu membahas salah satu anggota tubuh kita: mata.

Umumnya kita tahu bahwa mata setiap orang tidak sama. Ada yang besar dan kecil, ada yang warnanya hitam, abu-abu, cokelat, hijau, biru, atau kombinasi dari semuanya. Bahkan adakalanya warna mata seseorang berubah karena tergantung kondisi fisiologis tubuhnya, meski biasanya perubahan ini samar atau tidak drastis. Mata tidak hanya berguna untuk pemiliknya melihat dunia sekitar, namun juga berguna untuk orang lain di sekitar kita melihat apa yang tidak kita utarakan melalui kata-kata. Seberapa sering kita mendengar ada yang merasa terganggu dengan cara orang lain memandangnya, atau bagaimana ia merasa ada yang 'mengawasinya' meski kelihatannya sedang sendirian. Tidak bisa dipungkiri bahwa mata adalah jendela jiwa. Mata mengumpulkan informasi dari sekitar kita, namun mata juga memberikan informasi kepada orang lain mengenai siapa kita yang sebenarnya. 

Manusia dengan penglihatan normal disebut dengan 'trikromat' karena mempunyai 3 macam sel kerucut di matanya, dimana sel kerucut ini membantu kita menangkap spektrum warna dari setiap benda yang memantulkan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Sel-sel kerucut ini dikenal dengan nama sel S, M, L. Mirip dengan ukuran baju? Memang benar. Namanya menunjukkan 3 kelas dari panjang gelombang cahaya yang diproses oleh sel tersebut. Satu tipe sel kerucut akan mengenal 100 warna yang berbeda, sehingga seorang trikromat akan mampu melihat 1000.000.000 warna (yaitu 100 pangkat 3 atau 100^3). Ada banyak sistem identifikasi warna, dimana yang paling populer sampai saat ini adalah RGB (red, green, blue). 

Hilangnya salahsatu jenis sel kerucut di mata manusia akan menyebabkannya menjadi 'dikromat' atau mempunyai dua jenis sel kerucut atau lazim kita kenal sebagai seorang 'buta warna'. Sebenarnya istilah buta warna ini sendiri juga kurang tepat, karena mereka terap bisa melihat warna meski tidak banyak jenisnya .... sama seperti banyak spesies makhluk hidup yang sehat sentosa sebagai dikromat, contohnya adalah singa, kucing, dan anjing. Percaya atau tidak, ternyata lebih lagi makhluk hidup yang menjadi monokromat, yaitu mempunyai 1 jenis sel kerucut di matanya; dengan kata lain mereka melihat dunia dalam warna hitam dan putih.

Di beberapa bagian di bumi ini, ada juga manusia yang hidup sebagai tetrakromat ... karena mata mereka mempunyai 4 macam sel kerucut yang berfungsi baik. Artinya, mereka bisa melihat spektrum warna sebanyak 100^4 atau 100 juta warna. 😮 Jumlah tetrakromat di dunia ini sangat sedikit. Cukup banyak penelitian yang dikerahkan untuk mencari tetrakromat. Sejauh ini, baru ditemukan pada wanita. Serelah dilakukan penelitian lebih lanjut, ditemukan 1 lagi kesamaan di antara para tetrakromat: mereka semua adalah keturunan dari ayah yang buta warna. Dengan demikian hal ini memunculkan hipotesis bahwa 12% dari seluruh populasi wanita di dunia ini merupakan tetrakromat. Mengapa? Sebab, gen tetrakromat merupakan mutasi yang terjadi pada kromosom X (wanita mempunyai kromosom XX, pria mempunyai kromosom XY). 

mengapa ilmuwan aktif mencari tetrakromat? Diperkirakan bahwa kemampuan mereka melihat warna-warna alamiah yang tidak 'kelihatan' dengan mata normal bisa membantu para ahli untuk mendeteksi penyakit atau zat-zat berbahaya tanpa terlalu banyak menggunakan peralatan atau prosedur yang berisiko.

Sesungguhnya saya penasaran bagaimanakah rasanya menjadi seorang tetrakromat. Namun, seperti halnya banyak kelebihan menjadi sekaligus kekurangan kita, maka tetrakromat juga merasa bahwa mereka kadang merasa lelah melihat terlalu banyak hal yang bagi kita trikromat tidak ada artinya karena tak kasat mata. Bagi para pembaca yang ingin mengetahui seberapa banyak warna yang bisa terlihat oleh matanya, dipersilakan untuk mengikuti beberapa tes berikut ini 🙂
  1. color.method.ac
  2. www.igame.com/eye-test

Referensi:
  1. MacDonald, Fiona. (2016) "Scientists Have Found a Woman Whose Eyes Have a Whole New Type of Colour Receptor" Science Alert (link)
  2. Tsoulis- Reay, Alexa (2015) "What It’s Like To See 100 Million Colors" New York Magazine (link)
  3. Wikipedia (2017) "Tetrachromacy" (link)

Komentar

  1. Terimakasih Mba Embun, saya suka tulisannya!

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, terimakasih feedback nya Mbak Nana & Mas Gunawan 🙂

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....