Langsung ke konten utama

Kutukan Akuntansi


Ini adalah tulisan lama. Kurang lebih 7 tahun lalu, saat gue sedang mengambil program master di University of South Australia. Judul tulisan ini sebenarnya sudah lama ada di hati, tapi motivasi untuk menuliskannya semakin kuat ketika suatu saat gw ngobrol dengan temen dan dia nyeletuk “wah kutukan tuh !” begitu dia dia tau gue sekarang lagi kuliah dengan jurusan Akuntansi (lagi).

Mungkin ada benarnya. Pada saat SMA dulu gue jurusan A3 (ilmu-ilmu sosial), 2 tahun gue belajar Akuntansi sampe pada tahapan yang kalopun lagi tidur pules dibangunin trus ditanya jurnal gue langsung bisa jawab, ibaratnya ngigau aja debit kredit deh. Berlebihan? gak juga karena gue merasa memang harus begitu. Gue dulu sempet di "plot" untuk menjadi the first engineer in family, sehingga satu pertanyaan keras waktu gue milih masuk A3,(milih loh ye bukan dipilihin), dengan tegas gue jawab : "mau masuk STAN !"

Hahaha, mungkin itu jawaban bodoh. Tapi tahun 1992 perjuangan masuk STAN itu begitu berat, tesnya hanya ada di Jakarta, peserta yang ikut puluhan ribu dari seluruh Indonesia untuk memperebutkan jatah sekolah gratis yang cuma sedikit itu, dengan iming-iming "kuliah digaji, lulus langsung kerja" hahaha.

Yah begitulah, singkat cerita, entah karena usaha entah nasib, gue kuliah juga di STAN. Gampang dong, kan gue dah jago Akuntansi? sekali lagi gue katawa hahaha. Entah kenapa gue jadi gak begitu doyan ama Akuntansi begitu di STAN, kerjaan gue cuma jogging muterin kampus jurangmangu, ama latihan Taekwondo trus sekali-sekali pacaran hehehe. Alhasil, 3 tahun kuliah di STAN, Akuntansi gue gak "ngelotok" juga.

Tahun 1998, merupakan kesempatan pertama angkatan gue ikut tes D-IV. D-IV ini merupakan jalur bergengsi (katanya) bagi lulusan STAN. Lulusannya banyak yang menjadi akuntan atau praktisi keuangan ternama. Yang bisa masuk D-IV pun rata-rata waktu D-III mempunyai prestasi dan nilai yang bagus. Waduh, bukan gue banget tuh, prestasi gue selama D-III kan cuma dapet perak kejuaraan Taekwondo antar Universitas se-DKI ama nonjokin preman kampung Sarmili, kagak nyambung sama sekali ama tes masuk DIV.

Mungkin saat itulah gue mulai "dikutuk". Posisi "underdog". Gak belajar, malah browsing internet sampe pagi di kamarnya Nanang (BPKP makasar waktu itu), gue pun ikut juga ujian masuk D-IV. Underdog man, karena di Makasar waktu itu ada Ni Ketut, Nanang, Octa, Acep, Eko, Hadad, dll yang semuanya dulu waktu wisuda DIII jauh didepan gue. Eh, malah untuk instansi DJA se-sulawesi cuma gue yang lulus. Mungkin ini juga hikmah karena dulu lagi panas-panasnya gue berantem ama kepala kantor (maafin gue ya pak Zain).

Sempet gak percaya tuh, kalo gue lulus. Sebulan di Jakarta aja tiap bangun tidur bengong dulu karena takut cuma mimpi bisa ninggalin daerah secepat itu. Sempet ada perasaan "wah gue mampu ternyata" dan sempet ada niat wisuda D-IV di depan Ni ketut hahaha. Temen-temen STAN 92 tentu tau gimana "saktinya" gadis Bali satu ini.

Tapi tekad tinggal tekad, saat D-IV kegiatan gak cuma jogging ama Taekwondo, tapi juga "ngasong" dan naek gunung hihihi. Tiap kali masuk kelas bilang "selamat pagi", dosennya bilang "selamat siang". Baru duduk 5 menit trus dosennya bilang "ya sampai jumpa minggu depan" parah betul L

Mudah-mudahan ini bukan bagian dari kufur nikmat. Begitu banyak temen yang betul-betul serius dan rajin kuliah yang akhirnya harus "drop out". Bahkan ada yang sempet bilang "being accountant is the most important thing in my life". Heh, maafin gue ya temen.

Oh ya, pada saat D-IV itu juga gue sudah berniat buat nerusin kuliah di luar negeri. Tapi kalo waktu itu gue bilang ke temen-temen takutnya nanti Bintaro Plaza sepi hahaha. Belagu mungkin, karena nyatanya kuliah D-IV gue juga pas-pasan. Artinya ya kalo yang lulus 300 orang, gue nomor 299, asal katut kata orang jawa. Biar yang lulus cuma satu asal kita, kata orang Bone. Tapi beneran kok, gue udah pengen kuliah di luar negeri itu dari sejak gue D-IV, tapi tentunya bukan Akuntansi hehehe. Makanya begitu lulus, jadi Akuntan, usaha nyari beasiswanya ya di bidang Marketing, HRM, Public Policy, dan sebagainya, pokoknya NO ACCOUNTING. Percaya atau tidak, bahkan saat sudah lulus tes pun, ada aja yang menghalangi gue buat ke luar negeri. Alhasil Kedubes Australia di Jakarta di bom. Loh apa hubungannya? Iya, kedubes Australia di bom hanya selang beberapa hari setelah gue di tolak ke Australia hahaha.

Akhirnya tahun 2008 gue dapet lagi beasiswa, kali ini dari Depkominfo. Sebenernya masih mau ngambil bidang non Akuntansi, lagi-lagi ditolak. Eh begitu gue pilih Akuntansi...sim salabim..semua lancar kayak jalan tol bekasi - jakarta jam 2 pagi hihihihi. Nah, I am a Master of Professional Accounting now. Hah, hebat kali rupanya. Iya, hebat L tapi gue kok ngerasa gue gak pinter-pinter Akuntansi. 2 tahun di SMA, 3 tahun D-III plus 2 tahun D-IV dan sekarang 1.5 tahun S2; total hampir 9 tahun gue belajar Akuntansi. Boro-boro sedang tidur dibangunin bisa jawab soal Akuntansi, sedang sadar-sesadarnya pun gue belum tentu bisa jawab J.

“Kutukan” ini tentulah bukan sesuatu yang buruk. Bahkan belakangan ini menyadarkan gue untuk bertanggung jawab terhadap “kutukan” tersebut. Perasaan terkurung dalam “kutukan” Akuntansi bagai Malin Kundang yang terkurung batu oleh kutukan ibu-nya pelan-pelan gue hilangkan. Meskipun keinginan untuk menjadi seseorang yang hebat dalam Akuntansi itu belum ada, namun pelan-pelan gue mulai belajar lagi Akuntansi, berani mengajar Akuntansi dan sudah mengurus gelar profesi Akuntan. Energi dan waktu yang gue habiskan sudah sedemikian banyak dan panjang, apapun itu tentunya harus dipertanggungjawabkan. Bahkan keberuntungan pun harus dipertanggungjawabkan.


Mungkin perlu ditambah 4 tahun lagi PhD Accounting ya untuk melepaskan diri dari “kutukan” Akuntansi ini #eeh

Komentar

  1. Hebat cerintanya, bisa jadi inspirasi juga yang lulus nilainya pas-pas an juga. Modal nyengir doang. Tapi ada yang menarik neh, NI Ketut dengan yang ...ah sudahlah apakah sama ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm...berbeda orang tapi asalnya sama #eeh

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...