Langsung ke konten utama

Johari Window



Tulisan ini saya buat sebagai respons atas tulisan berjudul "PNS Jujur" yang dibuat oleh rekan kami, Samuel Manik (good writing, by the way 😊) ... meskipun sejujurnya respons ini saya kutip dari tulisan lama*). Mudah-mudahan tetap berguna.

Gambar di atas adalah Jendela Johari (Johari Window). Pertama kali aku mengenalnya di kelas Perilaku Organisasi. Konsep ini dicetuskan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 1955**), dimana Johari adalah gabungan dari nama kedua orang tersebut.

Jendela Johari adalah perangkat sederhana yang dapat menjelaskan 4 wawasan yang terjadi selama kita berinteraksi dengan orang lain:

  1. Semua wawasan mengenai diri sendiri yang juga diketahui oleh orang lain berada pada kuadran arena.
  2. Semua hal yang tidak diketahui oleh siapapun (termasuk oleh diri kita sendiri) berada pada kuadran unknown.
  3. Semua hal mengenai diri sendiri yang kita sembunyikan dari orang lain terletak pada kuadran facade atau 'tabir'.
  4. Dan terakhir, semua hal mengenai diri kita yang sudah diketahui orang namun kita sendiri tidak menyadarinya terletak pada kuadran blindspot.

Konsep Jendela Johari menarik hatiku, sebab ia mampu menjelaskan keunikan yang terjadi dalam interaksiku sendiri dengan orang lain. Ada kalanya orang ingin mengenalku namun di saat yang sama menyembunyikan dirinya sendiri dariku. Ada kalanya orang kecewa karena merasa tidak kupahami, namun di saat yang sama ia juga menyampaikan keinginannya dengan cara yang kompleks (kalau bukan rumit).

Secara interaksi yang ideal terjadi pada kaudran arena, aku tidak menyalahkan kehadiran facade dan blindspot di dalam interaksi kita sehari-hari. Umumnya yang disembunyikan adalah kekurangan (cela), jadi tabir facade terjadi untuk menjaga image kita di mata orang lain... sementara blindspot mungkin ada karena teman-temannya menjaga perasaan si empunya kekurangan tersebut.

Lebih menarik lagi apabila yang tersembunyi itu adalah suatu kelebihan. Kita bisa saja berasumsi bahwa orang menyembunyikan kelebihannya karena ia rendah hati. Di sisi lain, aku cenderung berpikir negatif tentang orang yang tidak mau memberitahu kelebihan orang lain. Dengan kata lain, ia pelit pujian. Bisa saja ia melakukannya karena takut temannya besar kepala, namun motif paling sederhana (menurutku) adalah rasa cemburu... dan ini menandakan rendahnya rasa percaya kepada kemampuan dirinya sendiri.  

Lalu apa hubungannya Johari Window dengan umpan-balik atau feedback? Sederhana saja, bisa jadi kita melihat sesuatu dengan jelas namun tidak terlihat oleh lawan bicara kita. Di sisi lain, bisa jadi orang lain melihat sesuatu secara jelas mengenai diri kita namun luput dari perhatian kita karena sudah begitu terbiasa. Di sinilah indahnya komunikasi. Dengan memahami bahwa semua orang punya "Johari Window" ... maka kita tahu bahwa ada hal-hal yang kita tidak tahu 😊 (nah bingung khan?)

Catatan:
* Sebagaimana ditulis pada blog pribadi, 12 September 2008
** Informasi lebih lanjut: http://en.wikipedia.org/wiki/Johari_Window



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...