Langsung ke konten utama

Catatan Perjalanan : Suatu Berkah atau Keprihatinankah?


Tebing-tebing kapur menjulang tinggi, membentuk suatu tembok raksasa putih di sekeliling kami. Satu-dua orang menyelesaikan pekerjaan mereka, mengeruk dinding bukit kapur dengan bantuan mesin buldozer. Sisa kerukannya membentuk satu cekungan besar dalam permukaan bumi, yang apabila terisi air hujan,  seakan menyerupai danau buatan. 




Gradasi warna yang ditimbulkannya sangat memukau, apalagi bila cahaya mentari mengenai permukaan air dalam cekungan, berpendar...
berbaur dengan warna alami tebing kapur. Hijau terlihat mata. Sangat indah.




Oleh penduduk sekitar, objek ini dijadikan salah satu tujuan wisata yang dapat dikunjungi dengan nama  Danau Biru, Bukit Kapur. Terletak di desa Jaddih, kabupaten Bangkalan, Madura. Perjalanan dari kota Surabaya melintasi jembatan Suramadu menuju ke lokasi kurang lebih 45 menit, dengan jarak 15 km, melewati pusat kota Bangkalan.

Lokasi yang awalnya dijadikan pertambangan kapur oleh penduduk sekitar, menjadi cukup terkenal karena pemandangannya yang menarik untuk berfoto-ria. Untuk dapat masuk ke lokasi, pengunjung dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp. 5000,- per orang, dan untuk mobil dikenakan tarif  Rp. 10.000,- per mobil. Harga yang cukup murah untuk dapat sekedar memanjakan mata.




Bila kita mau sejenak memikirkan fakta di balik keindahan itu, apakah rasa yang sebaiknya muncul, atau respon yang lebih tepat kita tampilkan, prihatin ataukah ini suatu keberkahan? Prihatin dengan nasib Bukit Kapur yang semakin menipis demi pembangunan, atau berkah bagi penduduk sekitar dengan adanya objek wisata seperti ini? Padahal dalam perjalanan menuju "objek jadi-jadian" ini, kami melihat gua-gua alami dalam tebing-tebing yang tidak terurus, dan cenderung diabaikan. Bila gua-gua alami ini dapat dieksplore dan dijadikan objek wisata juga, tentunya akan lebih membawa manfaat bagi penduduk sekitar.







Entah sampai kapankah kita bisa menikmati segala keindahan ini. 
Prihatin dengan nasib yang alami-alami? atau sekarang ini kita cenderung suka pada produk jadi-jadian yang hanya dapat memuaskan mata kita, sesaat?


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....