Langsung ke konten utama

Kisah Si Pembuat Kopi

Pintu pagar terdengar sedikit berdecit karena mungkin kurang pelumas. Bunyi itu jadi tanda buat Mbak Surti bahwa majikannya Pak Sudi telah pulang dari mencari nafkah. Seperti kebiasaan tiap hari, Mbak Surti langsung bergerak dari depan tv menuju dapur dan mengambil panci. Dikucurkan air mineral dari dispenser ke dalam panci kemudian segera dipanaskan di atas kobaran api.

Gagang pintu nampak dibuka dengan sedikit keras mirip didobrak. Pak Sudi nampak masuk ke ruang rumah yang sudah sepi. Belum lagi dia mencari sang istri, sudah keluar suara lantang dari tenggorokan, "Surtiii... buatin kopiii !!"

"Injih ndoro... ini sedang saya rebus airnya" jawab surti dari balik ruang dapur.

Mendengar jawaban Mbak Surti, Pak Sudi sedikit bergegas melangkahkan kaki ke dapur. Sembari melongok dari balik tembok Pak Sudi mencoba memberi instruksi, "Ingat ya Surti... jangan terlalu manis"

"Injih ndoro.. " Mbak Surti hanya mengangguk sambil menunduk

Meski injah injih saja di mulutnya, sebenarnya di benaknya Mbak Surti berpikir keras bagaimana memenuhi perintah majikannya tadi. Ya, instruksinya hanya 'jangan terlalu manis". Padahal 'manis' tentu tergantung pada lidah dan perasaan masing-masing individu. Ini ditambah lagi kata "terlalu". Bagaimana menakar kadar "manis" itu sudah menjadi "terlalu" atau belum karena hanya Rhoma Irama yang bisa tau dengan pasti.

Itulah permasalahan pelik Mbak Surti tiap malam. Meski sudah perintah rutin sehari-hari, tapi selalu saja ada yang kurang memuaskan di mata majikannya. Tapi karena hanya seorang pembantu ya Mbak Surti hanya bisa melaksanakan perintah dan pasrah jika majikannya marah-marah.

Sambil mempersiapkan mental, Mbak Surti berjalan menyuguhkan kopi racikannya yang menurut dia dan pengalaman sebelumnya sudah masuk kategori "tidak terlalu manis".
Diletakkannya cangkir di atas meja di depan Pak Sudi yang sedang melepas sepatu dan kaos kaki.

Diseruput kopi yang masih tampak berasap itu oleh Pak Sudi, sedangkan Mbak Surti masih berdiri dengan nampan di pelukan menunggui. Mbak Surti memang diperintahkan untuk tidak langsung pergi setelah menyuguhkan kopi, agar Pak Sudi bisa mengomentari (kata halus dari memarahi).

"bbbhh... pahit banget kopinya, Surtiii uda berapa kali saya bilang, saya maunya jangan terlalu manis bukan berarti ga manis kan?" bentak Pak sudi sambil menyemburkan kopi yang sudah sempat diseruputnya.

"Sudah kamu kasih gula belum ini? jangan-jangan lupa lagi kamu kasih gula! "

"Maaf ndoro...itu sudah saya kasih gula seperti biasanya, dua sendok kecil saja" Mbak Surti coba menjelaskan.

"Ah, ga mungkin ini rasanya ga kaya biasanya, 2 sendoknya penuh apa ngga? jangan-jangan dua sendok tapi ga penuh isinya" Pak Sudi masih tidak terima.

"Sudah ndoro, ini takarannya uda sesuai arahan ndoro" Mbak surti coba membela diri.

"Alaah, banyak alasan kamu.. sini ikut saya..." Pak Sudi masi bicara dengan nada tinggi sambil melangkah ke dapur. Di belakangnya surti berjalan mengikuti.

Di dapur Pak Sudi langsung menuangkan kopi sesuai takarannya dan gula sebanyak dua sendok kecil. Kemudian menunjukkan kepada Mbak Surti, "Nih.. segini Surti.. masa dikasih tau ga ngerti-ngerti". Kemudian menuangkan air panas yang masih tersisa di panci. Mengaduk dan mencoba mencicipinya.

"Naah ini kan pas... ga terlalu manis tapi ga pahit juga" raut Pak Sudi nampak menunjukkan kepuasan atas hasil karyanya sendiri.

"Injih ndoro" Mbak Surti cuma bisa pasrah.

Karena meskipun tiap malam mintanya sama, 'kopi tidak terlalu manis' tapi takaran ideal menurut Pak Sudi selalu  berubah-rubah. Wajar memang karena "tidak terlalu manis" itu sangat relatif dan tergantung selera. Dan selera bisa berubah-ubah tergantung kondisi masing-masing orang tiap harinya.

Coba saja misalnya tiap minta dibuatkan kopi, Pak Sudi mintanya bukan "jangan terlalu manis", tapi minta dengan jelas, contohnya "Surtiii...buatin kopi dengan takaran kopi tiga sendok dan gula dua sendok, ya!"
Jadinya Mbak Surti kan bisa jelas takaran buat kopinya. Dan kalau Mbak Surti bikinnya ga sesuai takaran yang diminta, Pak Sudi bisa jelas juga marah-marahnya. Begitu juga Mbak Surti, bisa jelas juga membela dirinya kalau dia sudah meracik kopi sesuai arahan majikannya.

nb: cerita ini memang fiktif belaka dan bukan nota dinas, jika terdapat kemiripan dengan proses penyusunan nota dinas, itu hanya kebetulan belaka :D

Komentar

  1. Pak Sudi dimana sih rumahnya? pengen sy siramin kopi manis...
    #TerlaluMenjiwaiCerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. rumahnya di rumah yang sama dengan Mbak Surti.. hehe

      Hapus
  2. Harusnya Pak Sudi beli mesin pembuat kopi mungil yang lagi kekinian itu, tinggal masukin air dan kapsul, sekali pencet dan enggak perlu nunggu lama kopi pun jadi. Masalah selesai. #inibukaniklan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasian Mbak Surti..nanti di PHK...lebih parah dari PHP itu :D

      Hapus
  3. Mantap mas Pandu. pilihan katanya ciamik.... khas Rangga... #eh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....