kebetulan, apanya bertalu-talu semesta usil merayu. agenda sua ibarat sensasi, tubuh diseret bersaksi, enam tujuh kali. sudahlah, pasrahnya . biarkan tatapan bersentuhan, jarak dirampas alasan biar bekerja si penasaran. ah , malam sepi berisik, logika di mana cuti. nikmati saja lah apa yang tak dipunya. “ngaco,” sadar nyamuk. kalau tiba sentuhan bisu, salahkan saja si gerik pengundang. jadinya, semesta atau penghuni yang lebih pandai menggoda? sampai sisa secuil bagaimana jika , mengutak-atik rasa menyuruh bulan menerka karena kalau hingga ini bernama tamat sudah senyata-nyatanya tapi terlanjur, pikirnya sungguh bahaya obsesi dua arah yang terus dipelihara
Menuangkan Ide Melalui Tulisan