Langsung ke konten utama

Esperanza

aku ingin mengembara ..

ke tempat-tempat yang jauh.bertemu orang-orang dan wilayah yang tak kukenal , asing, dan sangat berbeda.

sekalipun hanya pekuburan di Pere Lachaise.
sekadar memandang syahdu pada mesjid tua di Juisseu.

atau berjalan di sisi Galeries de Paleontologie & d'Anatomie Comparee.

kubayangkan juta cahaya di Paris ini,  city of light.

jangan biarkan aku hanya membaca "Rome in Colour" dan "Rome" tanpa menghirup udaranya..


bagiku, semua impian lebih indah dari lukisan Micheangelo diSistine Chapel atau karya blok batunya di Piazza del Campidoglio.


bangunkan aku untuk mencicipi Gelato dua euro .. yang pasti dibuat tanpa pengawet.

meski tak ada scycraper di Roma, meski kecewa saat kutahu makam Julius Caesar di Palatine Hill ternyata hanya segunduk tanah sederhana.. aku masih ingin kesana.

aku memang tak percaya tentang mitos di Trevi Fountain,bahwa pelempar koin ke kolamnya akan kembali lagi ke Roma suatu saat nanti.

namun aku rindu melihat indah bentuknya, gemericik airnya..dan bolehkah suatu saat aku naik gondola atau vaporetto di Venice ?



atau yakinkan aku pada sebuah hari aku berfoto di depan Parliament House tempat Big Ben berada.

menikmati aliran Thames river.

lalu membeli London Pass seharga 44.10 euro untuk menuju Buckingham Palace, menyaksikan Changing Guard pukul sebelas di sebuah hari di masa winter


aku juga suka bersepeda.

karena itu aku menunggu saat-saat bersepeda di antara tulip-tulip warna-warni, melintasi Bloemenmarkt, atau the Leidsestraat dan Prinsengracht.

meski prostitusi legal di tempat ini, dan De Wallen ,a red-light-district ,menjadi saksi atas pemajangan para penjaja "service" disana.

aku masih ingin ke negeri itu

menikmati lukisan alam yang terhampar indah di Keukenhof Park dekat Lisse. a world's largest flower garden.





Komentar

  1. Puisinya banyak referensi tempat-tempat wisata ... unik juga, makasih ya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...