Langsung ke konten utama

Tempatkan Sesuatu Sesuai Tempatnya

Sendok. Tentunya bukan barang yang asing bagi kita. Bentuknya simpel, cukup ringan, dan ukurannya juga tidak besar. Sendok menjadi kebutuhan yang sangat utama ketika seseorang sedang menyantap makanan.
Secara umum, tidak ada orang yang merasa keberatan untuk mengangkat sendok dan menggunakannya untuk menyuap makanan. Untuk kebutuhan yang satu ini, kita akan dengan sukarela memegangnya, bahkan menggerakkannya berulang-ulang untuk mengirim makanan dari piring menuju mulut. Dan hingga saat ini, secara umum belum pernah terdengar keluhan mengenai seseorang yang mengeluh untuk penggunaan sendok ketika makan.
Namun bagaimana jika suatu ketika kita diperintahkan untuk menggunakan sendok untuk keperluan lain? Bagaimana jika kita diwajibkan untuk membawa sendok kemanapun kita pergi? Bagaimana seumpama kita harus menyematkan sendok di saku baju kita kemanapun kita pergi? Apakah kita akan tetap merasa nyaman? Padahal tidak ada perubahan bentuk dan ukuran sendok. Tetap simpel dan ringan.
Ketika kita berangkat kerja, dengan menggunakan menggunakan angkutan umum. Berdesakan dengan penumpang lain, dan kita harus menjaga sendok yang ada di saku kantong kita. Ketika berada di kantor, dan dalam setiap apa yang kita lakukan, kita harus menjaga sendok dalam saku kantong. Ketika rapat, dan ketika menjalankan ibadah, kita harus tetap menjaga sendok di saku kantong kita. Tentunya dalam hal seperti ini, sendok akan menjadi sesuatu yang memberatkan. Tentu menjadi sangat mengganggu.
Secara umum, ketika kita menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai porsinya, sesuai kebutuhannya, tentunya tidak menimbulkan rasa berat di hati. Begitu juga dengan hal-hal yang lain. Ketika kita menempatkan sesuatu sesuai dengan tempat dan kebutuhannya, tentu segala sesuatu akan menjadi ringan. Tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga tak membebani orang lain.

Komentar

  1. Jadi, sendok ini perumpamaan untuk apakah?

    BalasHapus
  2. perumpamaan untuk sesuatu yang dibutuhkan untuk kebutuhan tertentu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....